Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 28 Juli 2008

Pengen Punya Banyak Teman?


Dalam hidup ini, tak satupun manusia menginginkan hidup dalam kesendirian. Termasuk Gue sendiri. Karena menurut gue kesendirian adalah sebuah pengingkaran terhadap fitrah. Makanya, tidak mengherankan kalo loe punya teman yang cenderung menyendiri nampak memiliki masalah yang banyak, seolah begitu sukar memecahkan tembok krisis diri. Keputusan menyendiri ini menyebabkan pergumulan soalan hidup tumpuk menumpuk. Padahal semua masalah kita bisa teratasi dengan adanya teman untuk sharing masalah kita. Siapa tahu mereka bisa nge-bantu kita. Seperti sahabat misalnya atau apalah.

Basically, fitrah manusia adalah hidup bermasyarakat; istilah kerennya adalah mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, telah menjadi sifat dasar kita-kita untuk bergantung kepada orang lain. Kita hidup saling membutuhkan. Seperti, petani dengan nelayan; petani dengan berasnya, nelayan dengan ikannya. Kedua orang ini dapat menyelesaikan persoalan pangan yang dihadapi oleh masing-masing pihak. Atau contoh yang lebih dekat saja, hubungan antara ibu dan anak. Anak tak dapat besar dengan sendirinya tanpa bantuan ibunya. Sebaliknya sang ibu karena merasa memiliki sang bayi, sang ibu akan merasakan sebuah kebutuhan mendasar seorang ibu. Nah, dari sedikit contoh ini saja kita bisa melihat begitu penting hidup sosial.

Untuk posting yang satu ini, gue akan berbagi kepada loe semua bagaimana cara mendapatkan banyak teman. Ikuti tips berikut ini:

1. Jadilah satu-satunya mahluk di bumi ini yang menunjukan minat pada teman baru.
Pernahkah loe melihat betapa sulitnya seseorang yang terlihat angkuh dan sok cool di bumi ini punya teman banyak. Mungkin ada tapi "sangat sedikit"; paling-paling teman-teman mereka juga yang sealiran - aliran cool case, KULKAS kalee... Ketika seseorang mendekati mereka paling-paling akan terkena sindrom alergi berhubungan. Karena orang-orang yang sok cool ini seolah membentuk benteng kesenjangan. Bagaimana menurut loe? Apakah loe mau menjadi orang-orang seperti ini. Loe mau menjadi orang yang sok penting, seolah tak ada minat terhadap orang lain. Nampaknya cukup subjektif, tapi kenyataan seperti itu kan..
Dale Carnegie berkata: "Individu yang tidak tertarik kepada kawan-kawannyalah yang memiliki kesulitan terbesar dalam hidup dan memberikan luka terbesar kepada orang lain."

Dalam sejarah Prancis, Napoleon adalah orang yang paling menghargai hubungan pertemanannya dengan tentara bawahannya. Napoleon pernah berkata kepada Josephine, "Josephine , saya adalah lelaki paling beruntung di bumi ini; namun; pada jam ini, kau satu-satunya orang di dunia ini yang bisa kupercaya." Sebenarnya para ahli meragukan apakah dia bisa percaya kepada Josephine. Tetapi demikianlah sikap Napoleon. Sikap kesatria Napoleon tidak luntur dengan keangkuhan jabatannya. Sebaliknya dia melihat pentingnya sebuah minat kepada orang lain. Karena kepercayaan terhadap orang lain akan membentuk loyalitas pertemanan. Gue sih percaya itu..loe gimana?

2. Bicarakan tentang apa yang teman loe sukai, bukan yang loe sukai.
Kesalahan paling fatal yang dilakukan orang-orang ketika bercakap dengan orang yang baru mereka kenal adalah sikap ego-sentris yang mengendalikan percakapan yang sedang berlangsung. Bahkan bisa saja kita tidak sadar telah melakukannya. Sering kali kita memulai percakapan dengan berkata "Saya kemarin baru-baru ke Bandung. Saya... Saya... dan saya lagi." Begitulah yang paling sering terjadi.

Padahal dunia ini penuh dengan manusia-manusia yang merampas dan mementingkan diri sendiri. Ketika kita berbicara tentang diri kita sendiri, kita sebenarnya telah menafikan kehadiran teman kita yang juga pengen diakui, atau paling tidak sekedar ditanyakan bagaimana kabarnya atau apalah. Dan sikap egosentris kita pasti akan menyempitkan relasi pertamanan kita. Henry Ford berkata: "Kalau pernah ada rahasia tentang sukses, itu adalah kemampuan untuk melihat segala sesuatunya dari sudut pandang orang lain, dan juga dari sudut pandang Anda." Camkan..!!!

3. Senyuman sangat berarti dalam sebuah hubungan pertemanan.
Charles Schwab mengatakan bahwa senyumnya bernilai jutaan dolar. Percaya gak? Tapi kayaknya ini emang benar adanya.Dan dia mungkin mengatakan yang sebenarnya. Karena kepribadian Schwab, daya tariknya, kemampuannya membuat orang menyukainya, hampir semuanya menjadi penyebab dari suksesnya yang luar biasa; dan salah satu faktor yang sangat menyenangkan dalam kepribadiannya adalah senyumnya yang memikat.

Percaya atau gak. gue yakin kalo loe mau kenal seseorang terus rawut wajah loe kusut dan layu seperti tidak makan 3 hari 3 malam, gue bisa mastiin orang yang loe mau kenal pergi jauh-jauh. loe mau mereka bilang "piss-off deh." Gak enak kan. Makanya show your smile. karena smile loe begitu berarti karena your shiny smile itu seperti ruh sebuah kehidupan. smile brings happiness. Dan gue yakin semua orang suka kebahagiaan. Ya gak?!!

4. Anda harus senang ketika berjumpa dengan teman yang baru Anda kenal.
Gue percaya pada satu hukum di dunia ini. dan para filsuf abad silam berkata: "Apa yang kita dapatkan adalah apa yang kita berikan." Loe boleh percaya atau tidak dengan untaian kata-kata ini, tapi apa yang membuat orang sukses? bukankah karena usaha yang telah mereka berikan? begitulah dengan prinsip berhubungan dengan orang lain, ketika anda senang pada orang lain, mereka pun akan menunjukkan respon yang sama seperti yang kita berikan.

Cara Meraih Kebahagiaan

Cara berbahagia adalah upaya meraih kebahagiaan. Bahagia berarti mencapai kesejahteraan psikis pada setiap kondisi dan situasi. Hidup tidak hanya hitam dan putih, namun dipenuhi beragam warna. Berbagai situasi dan kondisi hidup, entah itu senang, susah, biasa-biasa, rutin, monoton, semua harus bisa dan berani dihadapi. Tentu adalah pertanyaan besar apakah kita dapat memaknai kebahagiaan itu atau tidak. Ada beberapa hal yang harus dipahami tentang kebahagiaan.

Pertama, bahagia bukan tujuan, tapi proses. Adalah sia-sia jika seseorang menempatkan bahagia di ujung harapan, lalu berangan menggapainya. Upaya ini rentan mendekatkan manusia pada kondisi depresi. Bahagia ada di dalam proses hidup, apa pun tujuan kepuasan yang ingin dicapai. Dengan menikmati setiap gulir waktu, peristiwa, persoalan, pemecahan masalah, maka bahagia dengan sendirinya telah dimiliki. Pada saat orang mampu memberi makna positif pada setiap detail kehidupannya, maka ia memiliki bahagia. Makna positif itu
adalah membiarkan seluruh diri melebur di dalam waktu. Melepaskan kecemasan dan ketakutan, membebaskan pikiran dari upaya-upaya pembelaan diri yang kaku. Merasakan denyut nadi, detak jantung, dan aliran darah, secara alamiah, hingga melonggarkan manusia dari pola-pola tidak sehat. Menyerahkan jiwa sepenuhnya pada proses kehidupan yang tengah bergulir atau dengan kata lain pasrah.

Kedua, bahagia memiliki kekuatan resonansi. Kebahagiaan yang dimiliki seseorang akan dapat menggetarkan sekelilingnya, sehingga orang lain turut merasakannya dan memiliki bahagia. Cara kita menikmati proses demi proses kehidupan adalah inspirasi bagi orang lain. Berbuat sesuatu yang inspiratif seharusnya jauh dari perbuatan buruk, melanggar norma ataupun merugikan orang lain. Menginspirasikan nilai hidup positif bagi orang lain adalah kebahagiaan. Apabila kebahagiaan seseorang menimbulkan prasangka buruk di dalam lingkungannya tentu saja nilai kepuasan akan hilang. Namun proses yang dibiarkan mengalir didasari niat tulus dan jiwa tenang beralaskan prinsip adalah bahagia yang menetap, waktulah yang bertugas menjawabnya.

Ketiga, keadaan bahagia bukannya tanpa kesulitan hidup. Keliru besar jika seseorang ingin memiliki bahagia dengan cara menjauhi masalah-masalah kehidupan. Justru kebahagiaan menyusup, ketika dengan berani, pribadi matang, pengendalian diri, dan dengan bijak, orang menghadapi persoalan hidup. Barangkali ada yang bertanya, bagaimana mungkin saya berbahagia pada saat orang yang sangat saya kasihi pergi meninggalkan saya untuk selama-lamanya? Kenapa tidak mungkin? Ketika Anda menangis, bersedih, meratap, pasti Anda tahu bahwa ada kondisi kebalikannya. Menyadari betapa beruntungnya Anda pernah memiliki saat-saat indah bersamanya, merupakan proses bahwa Anda bahagia memiliki semua, baik di saat senang maupun saat susah.

Keempat, materi bukan ukuran kebahagiaan. Jika bahagia semata materi, maka depresi pun mengintai jiwa manusia. Orang akan terjebak pada lingkaran puas-tidak puas. Bahagia adalah perasaan cinta yang dibiasakan dan dipilih setiap orang, sehingga mencari cara untuk berbahagia dengan memiliki seluruh dunia adalah sia-sia. Bahagia bukan hal yang relatif, namun adalah karakter yang dibangun dari kebiasaan orang dalam proses mengisi hidup agar sungguh-sungguh bermakna. Menikmati hidup dengan tidak memusatkannya pada situasi dan kondisi yang baik atau buruk. Setiap orang bebas memilih untuk mau berbahagia atau tidak. Apabila orang sungguh-sungguh ingin berbahagia maka ia tahu bahagia sudah dimilikinya.

Merdeka atau Mati


Awalnya saya merasa hidup ini kejam dan tak menaruh belas kasihan. Tak pelak lagi, setiap hari hidup akan memberikan pengalaman getir yang mungkin tidak kita sukai. Ketika kita sedang asyik-asyiknya menikmati kebahagiaan, hidup menunjukkan sisi gelapnya. Dan flush... kebahagiaan pergi tak berbekas. Dan akhirnya, jika harus memilih, dengan jalan pikiran yang pendek, kita mungkin lebih memilih mati.

Tapi apakah hidup itu berjalan seburuk itu? Jawabannya tidak. Ken Hudgins berkata: "Arti hidup adalah memberi arti pada hidup itu sendiri; hidup itu bukanlah menerima tetapi memberi". Sebuah pesan sederhana dengan pesan filosofis yang dalam. Ironis, kita tidak pernah bertanya pada diri kita sendiri sudah berapa banyak hal yang kita lakukan untuk merubah hidup, menatanya dan mem-furnishnya dengan indah seperti kita mendekor rumah istana kita. Sebaliknya, hidup kita seolah-olah hanya sebuah kepasrahan. Kita hanya menjadi penunggu, peminta, dan pengemis hidup. Kenapa kita tidak mengusahakan sesuatu. Pernahkah kita bertanya pada diri kita untuk apa Tuhan menciptakan kita. Bukankah kita diberi kemampuan dan keistimewaan luar biasa oleh-Nya. Bukankah Tuhan menciptakan kita sebagai pemimpin atas diri kita dan pemimpin dunia. Tidak hanya itu, tidakkah kita berpikir bahwa Tuhan telah menciptakan mata agar tidak membuat kita buta melihat segala nikmatnya. Bukankah kita diberi tangan olehnya sehingga kita bisa menulis berbagai keindahan hidup ini. Bukankah kita hidup di dunia ciptaan-Nya yang Indah. dan Bukankah....?

Tidak ada sebuah pemungkiran nyata selain buta akan makna hidup. Sebagai ilustrasi saya mengutip postingan situs teman saya untuk membantu pemahaman kita;

Saat engkau beranjak dewasa engkau akan temkuan bahwa hidupmu penuh arti bagi orang-orang di sekitarmu.
Saat engkau menganggap engkau dapat hidup bebas sebenernya engkau tidak hidup bebas…….

Saat engkau duduk di bangku kuliah engkau mengganggap bahwa hidupmu bergantung pada nilai-nilai mata kuliah yang engkau dapat, itu salah teman, hidup yang engkau jalani semasa kuliah sebenernya hanya di hitung dari nilai yang engkau dapat, saat engkau mendapat nilai baik engkau akan di puji tapi disaat engkau mendapat nilai jelek, adakah orang yang perduli dengan keadaanmu saat itu??

Setelah engkau menyelesaikan masa studimu dan engkau beranjak untuk bekerja, engkau sempat berpikir bahwa kehidupanmu adalah itu, engkau akan merasa dihargai saat engkau berhasil membawa perusahaan ke arah lebih baik, banyak pujian yang datang kepadamu dan setelah itu mungkin engkau akan naik jabatan. Engkau menganggap bahwa itu adalah kehidupanmu, tapi apakah engkau tau bahwa saat engkau bekerja, engkau hanya dianggap sebagai nilai statistik belaka? nilai yang kadang-kadang bisa turun dan naik?? apakah itu kehidupanmu??

Engkau akan menyadari kehidupanmu sangat beharga saat engaku pulang kuliah atao pulang dari kantor. Disana masih banyak yang membutuhkan kamu, membutuhkan perhatian kmu dan sebenernya nilai dari kehidupan itu sendiri adalah saat itu. Bagaimana engkau dapat memberikan kehidupan bagi orang lain, memberikan perhatian kepada orang lain, entah itu bonyok, kakak, adik, atao teman kamu.


Di sinilah sebuah makna. Hidup akan menjadi membosankan jika dibuat dengan parameter angka-angka. Hidup bukanlah angka-angka. Tapi sebuah kebermaknaan diri kita yang Tuhan telah anugerahkan. Apakah kita ingin hidup kita membosankan?